Pada tanggal 23 Maret 2020, HPPBI Pusat melaksanakan Seminar Online HPPBI dengan tema “Covid-19 serta Upaya Pencegahan dan Pengobatannya dari Kajian Secara Bioinformatika”. Narasumber pada seminar tersebut adalah Viol Dhea Kharisma, mahasiswa Program Magister Biologi, Universitas Brawijaya. Mas Viol, juga merupakan Associated Member of Royal Society Biology – Australasia Branch, United Kingdom. Mas Viol menekuni penelitian pada bidang Theoretical Virology & Bioinformatics. Info lengkap tentang karya risetnya dapat diakses di

Google Scholar : https://scholar.google.com/citations?user=N4yoWQUAAAAJ&hl=en

Researchgate : https://www.researchgate.net/profile/Viol_Kharisma

Berikut cuplikan diskusi yang berlangsung di WA Grup HPPBI:

A. Sesi Presentasi

desain obat dan vaksin covid 19

 

B. Sesi Tanya Jawab

T: Pak Slamet H, (UNEJ/Ketua HPPBI Jatim)
Dengan reka2 desain vaksin secara Bioinformatika, kira2 bahan alam apakah selain curcumin yang tersedia di Indonesia ini yang paling sesuai untuk dijadikan vaksin sebagai pertolongan pertama saat kejadian atau bahkan sebagai asupan untuk melakukan tindakan Preventif.

J: Terminologi penyebutan penggunaa senyawa kimia untuk preventif itu saya rasa kurang tepat Pak, karena tindakan preventif lebih mengarah ke vaksinasi, sedangkan senyawa bahan alam yang biasa terkadung dalam jamu menghasilkan efek terapis (misalnya peningkatan daya tahan tubuh terhadap infeksi virus), yang mana harus dikonsumsi secara teratur. Senyawa kompleks dalam jamu sangat bermacam-macam Pak curcumin hanya salah satu yang saya sebutkan banyak sekali golongan alkaloid, flavonoid, dkk. Berbicara terkait jamu untuk meningkatkan daya tahan tubuh, saat wabah SARS-CoV-2 ini saya sering mengonsumsi wedang jahe dengan sedikit gula, namun racikan jamu saya ini relatif dan tiap orang berbeda-beda atau ada yang cocok atau tidak. Karena saya merujuk literatur yang menjelaskan bahwa jahe dapat berpotensi sebagai antivirus, namun untuk sebagai antivirus SARS-CoV-2 belum ada penelitian yang menyebutkan.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23123794

T: Agus Muji (UNP) dan Muzayyinah (UNS)
Sebenarnya faktor lingkungan apa yang sangat berpengaruh terhadap mutasi kelompok virus ini sehingga dari mutasi tersebut memicu sebaran Covid-19 begitu luas?

J: Menurut saya, mutasi COVID-19 ini dipengaruhi oleh dampak salah satunya efek pemanasan global, yang mana ketika lapisan ozon menipis menyebabkan radiasi sinar ultrviolet bebas menghantam permukaan bumi dan mempengaruhi virus untuk melakukan mutasi melalui mekanisme genetic drive. Mekanisme ini menyebabkan perubahan struktural virus dikarenakan adanya perubahan struktur asam amino dan menimbulkan efek virulensi yang luar biasa daripada biasanya. Hal tersebut merupakan salah satu faktor penyebab mengapa COVID-19 lebih mudah menyebar dan menjadi pandemik dibanding SARS dan MERS. Mohon maaf maksud saya adalah genetic drift, untuk mekanisme tersebut telah ditemukan pada influenza namun untuk COVID-19 masih dugaan pribadi saya. https://www.cdc.gov/flu/about/viruses/change.htm

T: Bu Sundari (Unkhair) Bgm potensi kurkumin dlm penaganan covid19 meningkatkan reseptoar AcE2 atau sebaliknya? Prediksi insilikonya bgm?A

J: Saya sekilas telah membaca terkait jurnal tersebut dan ramai menjadi perbincangan sehingga banyak orang menganggap mengonsumsi empon-empon seperti jamu kunyit asam justru memperparah COVID-19, memang menunjukkan ekspresi positif reseptor ACE2 saat hewan coba ditreatment oleh curcumin. Namun untuk in siliconya saya belum mencoba untuk memprediksi jalur metabolisme dari kurkumin itu sendiri. Tetapi, saya belum menemukan penjelasan dari jurnal terkait model eksperimen hewan coba yang langsung ditreatment dengan jamu-jamu yang mengandung curcumin, karena kalau tidak salah pada jurnal sebelumnya hanya menggunakan senyawa tunggal. Karakteristik stereokimia (enantiomer) curcumin ketika dia tunggal dan berada dalam senyawa kompleks efeknya sangat berbeda, karena bisa jadi senyawa kompleks dapat menghasilkan feedback negatif-positif terhadap efek biologis curcumin sehingga membentuk efek homeostasis dalam kompleksitas senyawa yang terkandung dalam herbal . Jadi tidak mesti juga empon-empon yang mengandung kurkumin dapat memperparah infeksi COVID-19, oleh karena itu perlu dilakukan pendekatan sains kompleksitas untuk memberikan evidence base pada jamu-jamu di Indonesia.

T: Bu Poppy
Apakah bisa dikatakan tidak adanya packinging materi genetik virus menjadi salah satu factor tingginya Laju mutasi genetika virus?

J:Pada gambar proses replikasi yang saya tampilkan terdapat mekanisme pembungkusan yaitu saat proses assembly saat pembentukan kapsid dan envelop/amplop COVI-19. Sebenarnya laju mutasi tinggi bukan karena hal tersebut, melainkan si virus ini memiliki material genetik berupa RNA, dan tidak memasuki nukleus sel saat replikasi. Sehingga tidak ada proses perbaikan dahulu seperti virus dengan genetik DNA, sehingga memicu kegagalan terjemahan saat translasi yang menginisiasi terjadinya perubahan struktur spesifik pada virion.

 

 

Leave a Comment